Demo Ricuh di Alun-alun Purwokerto, Tukang Sol Jadi Korban Penjarahan

Aksi demonstrasi di Alun-alun Purwokerto, Banyumas, berujung ricuh pada Sabtu (30/8/2025). Massa tak dikenal menjarah sepatu milik tukang sol yang sehari-hari mangkal di sekitar kantor Pemkab. Peristiwa ini menyisakan luka sosial mendalam bagi para pekerja kecil.

Demo Ricuh di Alun-alun Purwokerto, Tukang Sol Jadi Korban Penjarahan
Kericuhan demo di Alun-alun Purwokerto berujung penjarahan sepatu tukang sol. Warga kecil jadi korban, meninggalkan luka sosial dan kehilangan kepercayaan.

PURWOKERTO – JAGOK.CO – Aksi demonstrasi yang berujung ricuh di kawasan Alun-alun Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, pada Sabtu (30/8/2025), tidak hanya menimbulkan kerusakan fasilitas umum, tetapi juga menyisakan luka mendalam bagi para pekerja kecil, khususnya tukang sol sepatu yang sehari-hari menggantungkan hidup di sekitar lokasi tersebut.

Dalam kericuhan yang terjadi, sepatu-sepatu milik para tukang sol yang dititipkan di sekitar kompleks kantor Pemkab Banyumas dijarah oleh massa tak dikenal. Peristiwa ini menambah daftar panjang dampak sosial dari aksi unjuk rasa yang berubah menjadi anarkis.

Salah satu saksi sekaligus korban, Rochmat (62), mengisahkan detik-detik mencekam saat ratusan massa datang menyerbu.
“Mereka datang tiba-tiba, langsung melempari kantor pemkab dengan batu, bambu, bahkan ada petasan. Situasinya sangat menakutkan,” ujar Rochmat saat ditemui JAGOK.CO, Minggu (31/8/2025).

Rochmat yang sudah 27 tahun menggeluti pekerjaan sebagai tukang sol di Alun-alun Purwokerto itu mengaku sempat panik ketika melihat kerumunan semakin beringas. Ia memilih menyelamatkan diri.
“Begitu ramai-ramai, saya langsung pulang sekitar pukul 14.30 WIB. Dari pagi sebenarnya sepi, cuma dapat satu pelanggan, eh malah jadi begini. Takut sekali,” katanya dengan wajah muram.

Hari itu sebenarnya dimulai seperti biasa. Rochmat datang bersama tiga rekannya sekitar pukul 09.00 WIB untuk menggelar jasa sol sepatu. Namun, nasib berkata lain.
“Teman-teman saya ada yang pulang lebih awal sekitar jam 13.00 WIB. Biasanya kami sampai sore. Mereka menitipkan sepatu pelanggan dan perkakas di kompleks pemkab, tepatnya dekat Pos Satpol PP,” jelasnya.

Rochmat mengaku hanya menitipkan tiga pasang sepatu dagangan karena tidak muat dibawa semua. Namun, siapa sangka pos tersebut justru menjadi sasaran amuk massa.
“Sepatu saya yang tiga itu hilang, padahal nilainya enggak seberapa, paling Rp50 ribu per pasang. Tapi punya teman-teman saya lebih parah, semua habis dijarah. Bahkan ada yang hilang milik pelanggan, mereka benar-benar bingung sekarang,” ungkapnya pasrah.

Kehilangan itu bukan sekadar soal materi, melainkan juga soal kepercayaan. Para tukang sol yang biasanya dipercaya warga untuk memperbaiki sepatu harus menghadapi kenyataan pahit.
“Tadi pagi teman-teman datang ke sini, hanya bisa terdiam. Mereka takut kalau pelanggan datang menagih sepatu yang sudah dititipkan,” kata Rochmat.

Bagi Rochmat, ini adalah pengalaman yang tidak pernah ia bayangkan.
“Sejak saya mangkal di sini tahun 1998, belum pernah ada demo yang seburuk ini. Apalagi sampai ada penjarahan. Saya benar-benar tidak menyangka,” ucapnya dengan nada getir.

Kericuhan demonstrasi ini bukan hanya menyisakan puing-puing dan kaca pecah di sekitar Alun-alun Purwokerto, tetapi juga menyisakan trauma sosial bagi para pekerja kecil yang tidak tahu-menahu soal urusan politik. Mereka yang sehari-hari berjuang untuk sesuap nasi justru menjadi korban paling nyata.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa setiap aksi massa seharusnya tetap memperhatikan nilai kemanusiaan, agar suara rakyat tidak berubah menjadi bumerang yang menyakiti rakyat kecil.