Hamas Setuju Gencatan Senjata 60 Hari di Gaza
Hamas setuju proposal gencatan senjata 60 hari dengan Israel di Gaza. Kesepakatan ini membuka peluang akhir genosida dan pembebasan sandera, ditengah tekanan global.
JAGOK.CO – GAZA, TIMUR TENGAH – Harapan baru menuju perdamaian di Jalur Gaza kembali menyala. Pada Jumat (4/7/2025), kelompok perlawanan Palestina, Hamas, secara resmi mengumumkan bahwa mereka memberikan respons positif terhadap proposal gencatan senjata selama 60 hari dengan Israel, membuka jalan bagi kemungkinan penghentian genosida yang telah menelan ribuan korban jiwa selama hampir dua tahun terakhir.
Dalam pernyataan publiknya, Hamas menegaskan bahwa mereka telah “menyampaikan respons positif kepada para mediator internasional” dan siap memasuki fase negosiasi intensif untuk membahas mekanisme teknis dari kesepakatan damai yang tengah diupayakan. Pernyataan ini memberikan angin segar di tengah reruntuhan dan duka mendalam yang masih menyelimuti warga Gaza akibat serangan brutal militer Israel.
Sebelumnya, pihak Israel telah terlebih dahulu menerima kerangka proposal gencatan senjata yang dirancang oleh Amerika Serikat dan didukung oleh negara-negara mediator. Dengan sinyal hijau dari Hamas, diplomasi Timur Tengah kini memasuki babak krusial menuju finalisasi kesepakatan teknis, sebelum deklarasi resmi penghentian perang diumumkan ke dunia.
Peluang Nyata Akhiri Genosida di Gaza
Salah satu tokoh diaspora Palestina-Amerika, Bishara Bahbah, yang memiliki akses langsung dalam komunikasi informal dengan pihak Hamas, menyambut langkah ini dengan penuh harap. Dalam unggahan publik di akun Facebook pribadinya, Bahbah menyebut respon Hamas sebagai titik balik strategis dalam mengakhiri perang Gaza-Israel yang telah menewaskan lebih dari 38.000 warga sipil, sebagian besar perempuan dan anak-anak.
“Kita kini jauh lebih dekat untuk mengakhiri perang terkutuk ini,” tulis Bahbah.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Hamas memang mengajukan beberapa amandemen teknis terhadap isi proposal, namun menurutnya revisi itu bersifat minor dan tidak akan menghambat tercapainya kesepakatan final.
“Dalam pandangan saya, amandemen ini tidak akan menghambat tercapainya perjanjian gencatan senjata dalam sepekan ke depan, insya Allah,” ujarnya menambahkan, menandakan optimisme yang langka dalam sejarah panjang konflik Palestina-Israel.
Dari pihak Israel, seorang sumber yang terlibat dalam proses negosiasi mengungkapkan bahwa pemerintah Israel telah mengantisipasi respons positif dari Hamas. Ia menyebut bahwa perubahan redaksi yang diajukan pihak Palestina tidak dianggap signifikan dan tidak akan menghambat implementasi tahap awal kesepakatan.
Rencana Tahap Awal Gencatan Senjata dan Pembebasan Sandera
Berdasarkan dokumen kerangka proposal, selama masa gencatan senjata sementara ini, dari sekitar 50 sandera Israel yang masih ditahan di Gaza, Hamas akan membebaskan 10 sandera dalam kondisi hidup dan 18 lainnya dalam bentuk jenazah.
Langkah konkret akan dimulai pada hari pertama gencatan senjata, ketika delapan sandera hidup akan dibebaskan oleh Hamas dan ditukar dengan sejumlah tahanan Palestina. Sebagai bagian dari konsesi awal, Israel akan menarik pasukan militernya dari beberapa titik strategis di wilayah utara Gaza, membuka akses untuk bantuan kemanusiaan, serta memulai perundingan jangka panjang menuju gencatan senjata permanen.
Gaza Masih Terluka: Warga Palestina Cari Harapan di Tengah Puing
Meskipun diplomasi tengah bergerak, kenyataan di lapangan masih penuh luka. Di Kamp Pengungsi Al-Bureij, Gaza Tengah, pada Kamis (3/7), serangan udara Israel kembali menghantam pemukiman sipil. Warga Palestina dengan tangan kosong masih menggali puing-puing bangunan, mencari kerabat mereka yang tertimbun, dan menjemput harapan di tengah kehancuran.
Konflik Gaza-Israel telah menciptakan tragedi kemanusiaan terbesar abad ini, dan dunia menantikan dengan cemas apakah proposal gencatan senjata Hamas-Israel ini akan menjadi titik awal berakhirnya siklus kekerasan panjang di Tanah Suci Palestina.























