Karhutla Riau 2025 Meluas, 586 Titik Api Belum Padam
Kebakaran hutan dan lahan di Riau 2025 semakin meluas dengan 586 titik api aktif. Manggala Agni kerahkan ratusan personel ke enam kabupaten prioritas. Pemadaman terkendala medan berat dan cuaca ekstrem.
JAGOK.CO – PEKANBARU – Langit Riau kembali diselimuti asap tebal, bukan karena awan mendung, melainkan karena amukan si jago merah yang belum kunjung padam. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau 2025 terus meluas secara masif, memaksa tim gabungan pemadam kebakaran bekerja tanpa henti. Hingga Minggu (20/7/2025), kobaran api masih terpantau aktif di sejumlah titik api prioritas, tanpa ada satu pun lokasi yang dinyatakan padam total.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengakui betapa berat medan yang dihadapi di lapangan. Saat ini, lebih dari 100 personel Manggala Agni telah diterjunkan dan tersebar di enam kabupaten prioritas penanganan karhutla Riau, yakni Kampar, Rokan Hulu, Siak, Rokan Hilir, Bengkalis, dan Dumai.
“Semua lokasi yang kami tangani masih dalam status belum padam. Beberapa titik sudah masuk hari keenam pemadaman. Ini menunjukkan betapa beratnya kondisi di lapangan,” ungkap Ferdian dalam keterangan resmi.
Ia menggambarkan betapa gigihnya perlawanan terhadap kebakaran hutan di Riau. Situasi makin memburuk, terutama di Kabupaten Rokan Hilir, hingga memaksa Manggala Agni mendatangkan bala bantuan dari luar provinsi.

“Untuk wilayah Rokan Hilir, kami sudah menambah kekuatan dengan mendatangkan personel dari Daops Manggala Agni Jambi dan Sumatera Selatan,” jelasnya.
Langkah ini menandai bahwa penanganan karhutla di Riau telah menjadi persoalan regional, bukan lagi sekadar masalah lokal. Koordinasi lintas provinsi menjadi sangat krusial untuk mengatasi kebakaran skala besar seperti ini.

“Pemadaman di lapangan menemui banyak kendala. Semua pihak bekerja maksimal, tetapi hambatan seperti akses sulit dan cuaca panas ekstrem sangat memperlambat proses pemadaman,” tambah Ferdian.
Medan yang sulit dijangkau, ditambah kondisi vegetasi yang sangat kering, menjadi musuh tak kasat mata yang memperparah situasi. Namun, Tim Manggala Agni tetap pantang menyerah melawan kobaran api yang terus menyebar.

Manggala Agni Daops IV/Pekanbaru telah mengerahkan personelnya ke lima lokasi strategis: Desa Rimbo Panjang, Kampar (6 personel); Desa Rokan Koto Ruang, Rokan Hulu (6 personel); Desa Baru, Kampar (5 personel); Kampung Jambai Makmur, Siak (8 personel); serta Kepenghuluan Balam Sempurna, Rokan Hilir (8 personel). Ini menunjukkan komitmen penuh dalam melindungi masyarakat dari ancaman asap dan kerusakan lingkungan.
Sementara itu, Daops V/Dumai juga bekerja intensif. Di Desa Petani, Bengkalis, upaya pemadaman karhutla telah memasuki hari keenam dengan 14 personel. Sedangkan di Kelurahan Bagan Keladi, Dumai Barat, pemadaman berlanjut di hari ketiga dengan 11 personel. Di Teluk Bano I, Bangko Pusako, Rokan Hilir, 42 personel dikerahkan sejak dua hari terakhir untuk menekan penyebaran api.

Dukungan serupa datang dari Daops VI/Siak yang mengirim 8 personel ke Balam Sempurna, Balai Jaya, Rokan Hilir. Bahkan, mereka menambah 11 personel lagi ke lokasi tersebut. Tak kalah penting, Daops VII/Rengat juga turut memperkuat barisan dengan 10 personel tambahan ke wilayah Rokan Hilir. Sinergi antar-daops ini menjadi fondasi utama menghadapi skala kebakaran hutan yang semakin luas.
Data terbaru dari BMKG pada Sabtu malam menunjukkan lonjakan signifikan titik panas. Tercatat ada 586 titik panas (hotspot) di Riau, menjadikannya provinsi dengan jumlah titik api tertinggi di Sumatra. Ini adalah sinyal darurat yang tak boleh diabaikan dan membutuhkan kesiapsiagaan masyarakat serta peran aktif semua pihak.

Menyikapi situasi genting ini, Ferdian kembali mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran, terutama di musim kering ekstrem seperti sekarang. Sebab, mayoritas penyebab karhutla berasal dari aktivitas manusia.
“Kami mohon kerja sama dari masyarakat. Satu puntung rokok saja bisa memicu kebakaran besar di kondisi seperti ini,” tegas Ferdian.
Bencana karhutla kini bukan hanya persoalan Riau. Pemadaman kebakaran hutan di Sumatera Barat juga dilakukan oleh tim Manggala Agni. Di Nagari Paninggahan, Kabupaten Solok, upaya pemadaman dipimpin oleh Daops Sumatera XI/Tebo. Sementara di Nagari Tarantang, Kabupaten Lima Puluh Kota, dikerahkan pasukan dari Daops Sumatera IX/Kerinci Jambi.

Realitas ini menunjukkan bahwa ancaman karhutla di Indonesia tahun 2025 telah menjadi masalah lintas provinsi, lintas sektor, dan lintas batas. Hanya dengan upaya kolektif yang solid, sinergi lintas daerah, dan kesadaran masyarakat, kebakaran hutan dan lahan bisa dicegah dan dikendalikan demi menjaga kelestarian ekosistem dan kesehatan udara bagi generasi mendatang.























