Unilak Pelopor Kampus Inklusif, Mendikti Tinjau Layanan Disabilitas

Kunjungan Mendikti Prof. Brian Yuliarto ke Unilak Pekanbaru menegaskan komitmen pendidikan inklusif. Unilak jadi pelopor kampus ramah disabilitas dengan ULD dan beasiswa mahasiswa difabel.

Unilak Pelopor Kampus Inklusif, Mendikti Tinjau Layanan Disabilitas
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Prof. Brian Yuliarto, PhD, bersama Rektor Unilak Prof. Dr. Junaidi dan Ketua Yayasan Pendidikan Raja Ali Haji Prof. Dr. Irwan Effendi saat kunjungan kerja di Universitas Lancang Kuning Pekanbaru, Sabtu (28/6/2025), membahas penguatan pendidikan inklusif dan layanan disabilitas di perguruan tinggi.
Unilak Pelopor Kampus Inklusif, Mendikti Tinjau Layanan Disabilitas

JAGOK.CO - PEKANBARU — Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Prof. Brian Yuliarto, PhD, melakukan kunjungan kerja strategis ke Universitas Lancang Kuning (Unilak), Sabtu (28/6/2025). Kunjungan ini menjadi momen penting dalam mendorong peningkatan kualitas dan aksesibilitas pendidikan tinggi yang inklusif di Indonesia, terutama bagi kelompok disabilitas.

Kedatangan Mendiktisaintek disambut hangat oleh Ketua Yayasan Pendidikan Raja Ali Haji, Prof. Dr. Irwan Effendi, dan Rektor Unilak, Prof. Dr. Junaidi, beserta jajaran pimpinan kampus. Dalam agenda tersebut, berlangsung dialog inspiratif bertajuk "Mewujudkan Pendidikan Inklusi, Aksesibilitas, dan Kesetaraan di Perguruan Tinggi," yang turut dihadiri anggota Komisi X DPR RI, Dr. Hj. Karmila Sari, sebagai bentuk sinergi antara eksekutif, legislatif, dan institusi pendidikan.

Dalam pidatonya, Prof. Brian Yuliarto menekankan bahwa negara memiliki payung hukum kuat untuk menjamin pendidikan inklusif sejak dekade 1990-an. Ia merujuk pada UU No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas yang mewajibkan kehadiran Unit Layanan Disabilitas (ULD), UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menegaskan hak pendidikan berkualitas untuk semua, dan Permendikbudristek Tahun 2023 yang mewajibkan setiap perguruan tinggi membentuk ULD.

Namun, tantangan masih besar. Data nasional menunjukkan bahwa dari sekitar 4.000 perguruan tinggi di Indonesia, baru 149 kampus yang memiliki ULD, dan hanya 249 kampus yang tercatat memiliki mahasiswa disabilitas, dengan total 3.582 mahasiswa disabilitas. Dalam konteks ini, Unilak menjadi percontohan nasional dalam pengembangan layanan pendidikan disabilitas, menunjukkan komitmen kuat untuk menghadirkan kesetaraan nyata di level pendidikan tinggi.

“Pendidikan sejatinya tidak boleh membeda-bedakan. Ini soal keadilan, bukan belas kasihan. Saya pribadi akan mendukung penuh, termasuk memberikan rekomendasi kerja untuk lulusan disabilitas, serta akses beasiswa LPDP ke luar negeri bagi yang berprestasi,” tegas Prof. Brian, disambut tepuk tangan peserta. Acara juga diwarnai penampilan budaya yang menggugah hati—Tari Randai Kuantan yang dibawakan oleh mahasiswa disabilitas, diikuti oleh Menteri dan para undangan, menciptakan atmosfer haru sekaligus bangga.

Rektor Unilak, Prof. Junaidi, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi tinggi atas kunjungan menteri, dan memaparkan bahwa sejak tahun 2022, Unilak telah membuka akses luas bagi mahasiswa disabilitas. Bahkan, saat terjadi moratorium pembukaan prodi, Unilak tetap membuka Program Studi Pendidikan Khusus, sebagai bukti nyata komitmen terhadap pendidikan yang inklusif.

“Sebagian besar mahasiswa disabilitas kami memilih Prodi Bisnis Digital, dan mereka tidak dibiarkan berjalan sendiri. Mereka mendapat beasiswa dari Adiks, Pemda, hingga Unilak sendiri, serta dilengkapi dukungan dari Pusat Layanan Psikologi dan Disabilitas serta keterlibatan aktif para relawan mahasiswa,” ujar Junaidi.

Namun ia tak menutup mata atas tantangan besar yang masih mengadang—yakni keterbatasan lapangan kerja bagi lulusan disabilitas. Dalam paparannya, Prof. Junaidi menyerukan perubahan cara pandang nasional: dari melihat keterbatasan menjadi menghargai kemampuan dan potensi luar biasa yang dimiliki penyandang disabilitas.

“Pendidikan harus berujung pada kemandirian ekonomi. Ini tidak bisa dikerjakan sendirian. Perguruan tinggi, pemerintah, dan sektor swasta harus bahu membahu membuka ruang kerja yang inklusif. Inilah saatnya kita memimpin perubahan,” pungkasnya dengan penuh semangat.

Dengan kunjungan ini, Unilak tidak hanya memperkuat posisinya sebagai pelopor kampus inklusif di Sumatera, tetapi juga membangun gelombang baru komitmen kolektif menuju Indonesia yang benar-benar setara dalam pendidikan dan peluang—bagi siapa pun, tanpa kecuali.